Pengertian Tipes

Karena tifus ini disebabkan oleh infeksi bakteri, maka pengobatan utamanya adalah menggunakan antibiotik.

Antibiotik berasal dari dua kata Yunani, yaitu ‘anti’ yang berarti ‘melawan’ dan ‘bios’ yang berarti ‘hidup’.

Antibiotik ada 2 jenis:

  1. Yang bersifat bakteriostatik : obat yang dipergunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri (mengurangi populasi bakteri, namun tidak sampai membunuh total)
  2. Yang bersifat bakterisid : Obat yang digunakan untuk membunuh bakteri penyebab infeksi secara total.

Penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan, harus dengan resep dokter. Jika penggunaan antibiotik ini tidak sesuai indikasi, maka dapat menimbulkan kerugian yang lebih banyak, misalnya: resistensi antibiotik (kuman bakteri menjadi kebal) dan efek samping yang sangat banyak (misalnya gangguan pencernaan, kerusakan organ hati, bahkan gagal ginjal)

Kasus Tipes (Tifus)

Di Indonesia sendiri , kasus tipes diperkirakan sekitar 900.000 per tahun, dengan angka kematian mencapai 20.000 orang per tahun. Jumlah yang sangat besar!!

Sanitasi yang buruk dan terbatasnya akses air bersih diduga menjadi penyebab utama berkembangnya penyakit tersebut. Belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh membuat penyakit ini lebih banyak dialami anak-anak dan orang-orang setengah baya.

Gejala sakit tipes

Gejala tipes umumnya mulai muncul pada 1-2 minggu setelah tubuh terinfeksi bakteri Salmonella Typhi, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

Gejala Utama dikenal dengan Trias Typhoid, yaitu:

1 . Demam yang berangsur meningkat. Dapat mencapai 39°C-40°C.

  • Demam yang khas pada penderita tipes adalah : Pada Pagi hari suhu tubuh lebih rendah atau normal, Namun menjelang sore atau malam harinya, suhu tubuh lebih tinggi (demam intermitten). Dari hari ke hari intensitas demam makin tinggi yang disertai banyak gejala lain seperti:

tipes 1

2. Sakit kepala (pusing), atau penurunan kesadaran

3. Gangguan pencernaan ( Mual, muntah, sakit perut, diare, konstipasi atau kesulitan buang air besar).

Gejala tambahan:

4. Hilang nafsu makan

5. Nyeri otot, pegal-pegal

6. Lemas dan kelelahan

7. Insomnia (gangguan tidur)

8. Muncul ruam pada kulit berupa bintik-bintik kecil berwarna merah muda.

9. Lidah typhoid: Jika penderita tipes menjulurkan lidah, maka terlihat, tepi hiperemis(kemerahan), tengah berselaput (kotor), disertai dengan tremor (lidah bergetar)

tipes 2

Kondisi ini dapat memburuk dalam beberapa minggu. Jika tidak segera ditangani dengan baik (tentunya dengan penggunaan antibiotik), maka dapat terjadi komplikasi yang serius, bahkan mengancam nyawa.

Bagaimana Infeksi Terjadi?

Salmonella typhi yang masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi akan masuk ke sistem pencernaan. Demam tinggi, penurunan kesadaran, gangguan pencernaan serta gejala-gejala lain di atas, akan timbul ketika bakteri itu telah berkembang biak.

Jika tidak segera diobati, bakteri-bakteri tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh dengan memasuki pembuluh darah dan kelenjar getah bening. Gejala tifus akan memburuk jika bakteri telah menyebar ke luar sistem pencernaan.

Selain itu, bakteri yang menyebar dapat merusak organ dan jaringan lain sehingga menyebabkan komplikasi serius yang bahkan mengancam nyawa.

Komplikasi Tifus

Gejala Pendarahan Dalam

Pengidap tifus yang mengalami pendarahan dalam biasanya merasakan gejala-gejala seperti:

  • merasa lelah sepanjang waktu,
  • sesak napas,
  • muntah darah,
  • kulit pucat,
  • denyut jantung tidak teratur, dan
  • tinja berwarna hitam pekat.

Umumnya pendarahan dalam akibat tifus tidak mengancam nyawa. Meski demikian, transfusi darah dibutuhkan untuk mengganti hilangnya darah dari tubuh. Operasi juga mungkin diperlukan untuk memperbaiki kerusakan pada daerah pendarahan.

Luka pada Dinding Sistem Pencernaan

Komplikasi ini diderita sekitar 5 % (lima persen) pengidap tifus.  Perforasi (perlubangan atau bocor) terjadi ketika dinding sistem pencernaan terluka dan sebuah lubang pun terbentuk sehingga isi sistem pencernaan dapat tertumpah ke rongga perut. Tidak seperti kulit, lapisan perut bernama peritoneum tidak memiliki mekanisme pertahanan untuk melawan infeksi. Maka nyawa pasien akan terancam ketika bakteri penyebab tifus menyebar hingga ke perut dan menginfeksi peritoneum. Kondisi ini dikenal sebagai peritonitis.

Peritonitis adalah penyakit yang gawat karena peritoneum biasanya steril dan bebas dari kuman. Dalam situasi ini, infeksi dapat menyebar dengan cepat melalui darah ke berbagai organ lainnya. Infeksi ini dapat mengakibatkan berbagai organ berhenti berfungsi, bahkan membawa kematian jika tidak segera ditangani.

Luka pada dinding saluran pencernaan ditandai dengan merosotnya tekanan darah secara tiba-tiba, disusul adanya darah dalam tinja. Gejala lain adalah sakit perut yang kian memburuk.

Risiko komplikasi juga akan berkembang hingga menjadi membahayakan nyawa jika situasi tersebut tidak segera ditangani dengan baik.

Di rumah sakit, pengidap peritonitis akan diobati dengan suntikan antibiotik sebelum dioperasi untuk menutup lubang pada dinding usus.

Diagnosis Tifus

  • Ini dikarenakan di daerah endemis seperti Indonesia, semua orang sudah pernah terpapar Salmonella thyphosa. Tubuh telah membentuk antibodi terhadap bakteri ini. Itu sebabnya, ketika pemeriksaan Widal dilakukan, antibodi dalam tubuh akan memberi reaksi positif. Namun ini bukan berarti Anda positif mengidap tifus.
  • Selain tes Widal,terdapat juga tes yang lebih akurat mendeteksi tifus, yaitu tes TUBEXR. Tes imunologi  ini dilakukan menggunakan partikel berwarna untuk meningkatkan sensitivitas.
  • Tifus didiagnosis dengan menganalisis sampel darah (Adakah infeksi bakteri, ditandai nilai leukosit /sel darah putih yang meningkat, tinja (adakah perdarahan saluran cerna, adakah koloni bakteri di tinja), atau urin (adakah infeksi bakteri di urine) . Semuanya dilakukan di laboratorium.
  • Selain pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, akurasi diagnosis juga dapat dilakukan dengan memeriksa sampel cairan tulang belakang. Namun tes ini hanya digunakan jika pemeriksaan lain tidak mendatangkan hasil yang meyakinkan. Waktu yang panjang dan rasa sakit yang ditimbulkan membuat tes ini lebih jarang dilakukan.

Jika sudah dilakukan Anamnesis ⇒ Pemeriksaan Fisik ⇒ Pemeriksaan Penunjang, Maka diagnosis sakit tipes sudah bisa ditegakkan.

Jika Anda positif mengidap tipes, ada baiknya memeriksakan anggota keluarga lain untuk mendeteksi kemungkinan penularan.

Pengobatan Tipes

  • Istirahat cukup
  • Makan teratur. Anda dapat makan sesering mungkin dalam kadar sedikit dibandingkan jika makan dengan porsi besar sebanyak tiga kali sehari.
  • Minum banyak air putih
  • Cuci tangan teratur dengan sabun dan air hangat untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi

Untuk mencegah penyakit ini, dapat diberikan vaksinasi/ imunisasi tipes (walaupun tidak wajib). Yang lebih penting adalah perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih, serta kebiasaan hidup sehat.

Perhatikan hal-hal berikut ini untuk menghindari risiko tertular tipes:

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan dan minuman, serta setelah buang air.
  • Jika harus membeli minuman, sebaiknya minum air dalam kemasan.
  • Minimalisasi konsumsi makanan yang dijual di pinggir jalan karena mudah terpapar bakteri.
  • Hindari es batu dalam minuman Anda. Juga sebaiknya hindari membeli dan mengonsumsi es krim yang dijual di pinggir jalan.
  • Hindari konsumsi buah dan sayuran mentah, kecuali Anda mengupas atau mencucinya sendiri dengan air bersih.
  • Batasi konsumsi makanan laut(seafood), terutama yang belum dimasak.
  • Masak makanan Anda sampai matang.
  • Minumlah air matang (yang benar-benar layak minum)
  • Sebaiknya gunakan air matang untuk menggosok gigi atau berkumur.
  • Bersihkan toilet, gagang pintu, telepon, serta keran air di rumah Anda secara teratur.
  • Hindari bertukar barang pribadi seperti handuk, sprei, dan alat mandi. Cuci benda-benda tersebut secara berkala dalam air hangat.
  • Hindari konsumsi susu yang tidak terpasteurisasi (susu sapi segar yang diolah melalui proses pemanasan pada suhu 75 derajat Celcius selama 15 menit dengan tujuan mencegah kerusakan susu akibat mikroorganisme perusak (patogen). Dengan cara ini, susu lebih aman terhadap kontaminasi bakteri Salmonella Tyhpi.

Sekian informasi dari kami mengenai Penyakit Tipes. Semoga bermanfaat.

boleh ^_^ kalau artikelnya bagus , langsung klik untuk di share yaak. hopefully bermanfaatShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin