Hipertiroid adalah Berlebihnya Hormon Tiroid yang dihasilkan dari kelenjar Tiroid, yaitu hormon tiroksin (T4) dan hormon triiodotironin (T3), Disertai dengan TSH (Tyroid Stimulating Hormon) yang rendah,sehingga menyebabkan gejala-gejala klinis dikarenakan hormon tiroid yang meningkat.

Sebenarnya ada istilah lain, yaitu Hipertiroidisme, dan Tirotoksikosis. Keduanya memang adalah keadaan Hipertiroid. Namun ada perbedaannya.

Hipertiroidisme itu murni produksi hormon tiroid yang meningkat dari aktifitas kelenjar tiroid yang meningkat/ over aktif/ hiperaktif. Misalnya: Penyakit Graves, Adenoma Toksik, Struma multi noduler toksik.

hipertiroid 4

Sedangkan Tirotoksikosis ada yang dikarenakan aktifitas kelenjar tiroid yang yang meningkat seperti Hipertiroidisme, dan ada Tirotoksikosis yang bukan karena aktifitas kelenjar tiroid yang meningkat, Tetapi bisa Hipertiroid. Misalnya adalah Tiroiditis.

Hipertiroid yang disebabkan oleh tiroiditis, Peningkatan hormon tiroidnya dikarenakan: sel-sel folikel tiroid yang pecah atau rusak akibat peradangan dan infeksi, Menyebabkan hormon-hormon tiroid di dalamnya pecah atau terlepas masuk ke aliran darah/ kebocoran hormon tiroid.

Kita mengetahui dahulu:

  • Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh suatu kelenjar, dibawa ke aliran darah menuju sel target atau organ target. Setelah itu sel target atau organ target mengenalinya sebagai pesan untuk melakukan fungsi atau tugas tertentu. (Seperti SMS) ^-^ Reseptor itu seperti penerima sinyal.
  • Sel : unit fungsional dan struktural terkecil pembentuk tubuh makhluk hidup
  •  Kumpulan Sel membentuk ⇒jaringan organ sistem organ organisme/makhluk hidup.

Hipertiroidisme atau kelenjar tiroid overaktif adalah kondisi terlalu banyaknya hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid di dalam tubuh. Kondisi ini akan menyebabkan gangguan pada metabolisme tubuh.

Tiroid adalah kelenjar di bagian depan leher yang mengendalikan metabolisme dan fungsi normal tubuh, seperti mengubah makanan menjadi energi.

Hipertiroid

Glande thyroid = kelenjar tiroid, bentuknya seperti dasi kupu-kupu.

Penyakit Gondok

Penyakit gondok adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya pembesaran di kelenjar tiroid. Bahasa kedokteran untuk penyakit ini adalah struma atau goiter.

Kelenjar tiroid yang membesar akan memperlihatkan pembengkakan pada leher. Karena letak tiroid di area leher.

Penyakit Gondok ini bisa disebabkan karena hipertiroid, dan hipotiroid. Bisa juga tidak disertai kelainan kadar tiroid, Pemeriksaan lab serum T4 (tiroksin) dan T3 (triyodotironin) dalam batas normal/ eutiroid. Nilai T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11.

Berdasarkan klinisnya:

  • Penyakit gondok karena hipertiroid, menunjukkan gejala klinis hipertiroid, dinamakan Struma Nodosa Toksik.
  • Penyakit gondok dengan kadar hormon tiroid normal (eutiroid), atau dengan kadar tiroid kurang dari normal (hipotiroid), dinamakan Struma Nodosa Non-Toksik.

Namun, Struma Nodosa Non-Toksik dengan kadar hormon tiroid yang normal (eutiroid), juga dapat meningkatkan aktifitas sistem saraf simpatis, sehingga menimbulkan gejala, seperti:

  • Peningkatan nadi,
  • Jantung berdebar-debar,
  • Insomnia,
  • Cemas,
  • Gemetaran

Pembesaran kelenjar tiroid/ gondok, dapat disebabkan oleh kurangnya diet iodium yang dibutuhkan untuk produksi hormon tiroid. Terjadinya pembesaran kelenjar tiroid dikarenakan sebagai usaha meningkatkan hormon yang dihasilkan.

Dapat juga disebabkan oleh tumor, kista, kelainan hormonal, proses radang, dan gangguan autoimun.

Hipertiroid

Tindakan operasi (Tiroidektomi/Strumektomi)

Pada penyakit gondok/ struma yang besar, dapat dilakukan tindakan operasi bila pengobatan tidak berhasil, atau terjadi gangguan misalnya :

  • Penekanan pada organ sekitarnya, bisa sampai kesulitan bernafas, atau menelan
  • indikasi kosmetik
  • indikasi keganasan

Klasifikasi Gondok menurut WHO :

1. Stadium O – A: tidak ada gondok.

2. Stadium O – B: gondok tidak terlihat, Tetapi dapat teraba

3. Stadium I : Gondok dapat teraba dan terlihat hanya jika leher  terekstensi penuh/ Mendongak ke atas.

4. Stadium II: Gondok terlihat pada leher, walaupun tidak ekstensi penuh.

5. Stadium III : Gondok besar, dan terlihat dari jauh.


Gejala-gejala Hipertiroid

  • Hipertiroid dapat disertai pembesaran kelenjar tiroid/gondok/struma.

Hipertiroid akan mempercepat banyak proses metabolisme di dalam tubuh. Anda bisa merasakan gejala-gejala berikut:

  • Berat badan turun meskipun nafsu makan dan jumlah makanan yang dimakan tidak mengalami perubahan. Berat badan menurun, karena meningkatnya metabolisme tubuh, misalnya : metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak berlangsung cepat  ⇒ sehingga banyak kalori yang digunakan ⇒ tentu saja kehilangan kalori  ⇒ efeknya penurunan berat badan.
  • Denyut jantung lebih cepat (> 100 kali per menit), tidak beraturan, dan kadang-kadang muncul perasaan berdebar-debar  ⇒ Bahayanya, jantung menjadi lelah  ⇒ Gagal jantung
  • Hiperaktif. Seseorang tidak akan bisa diam

Hipertiroid

  • Mudah marah dan emosional.
  • Timbul rasa gugup, cemas, dan gampang tersinggung;
  • Tangan atau ujung jari gemetar;
  • Keringat berlebihan;
  • Suhu tubuh bisa menjadi panas. Jadi sering kepanasan.
  • Buang air besar (bisa juga diare), dan buang air kecil lebih sering;
  • Letih, lesu, dan loyo;

Hipertiroid

  • Bagi wanita, pola haid berubah-ubah
  • Mata tampak membelalak terus menerus, terutama pada hipertiroid yang dikarenakan penyakit Graves.

Awalnya gejala yang muncul mungkin bersifat ringan, tapi ketika kadar hormon tiroid dalam darah meningkat, gejala akan bertambah parah.

Lebih baik Anda memeriksakan diri ke dokter, untuk memastikan penyebab munculnya gejala tersebut.


Komplikasi, Penyebab, Test, dan Pengobatan, saya kutip sebagian dari www.alodokter.com , Namun saya akan tambahkan keterangan dari informasi yang saya ketahui mengenai hipertiroid supaya Anda mendapat penjelasan lebih detail, dan lengkap melalui artikel Penyakit Hipertiroid ini. Terimakasih. 😎

Komplikasi Akibat Hipertiroidisme

Jika Anda menderita hipertiroid dan tidak ditangani, Anda berisiko mengalami komplikasi. Berikut ini beberapa komplikasi yang mungkin terjadi:

  • Oftalmopati Graves. Gangguan mata ini disebabkan oleh penyakit Graves. Gejala yang bisa muncul adalah mata kering atau mengeluarkan air mata berlebihan, penglihatan kabur dan sensitivitas berlebihan terhadap cahaya.
  • Keguguran dan eklampsia. Wanita hamil dengan riwayat penyakit Graves atau yang menderita hipertiroid lebih berisiko mengalami komplikasi seperti keguguran, eklampsia (kejang-kejang pada masa kehamilan), kelahiran prematur, dan bayi dengan berat badan lahir rendah.
  • Hipotiroid. Dampak dari pengobatan terhadap hipertiroidisme adalah kelenjar tiroid menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Sebagai akibatnya, terjadilah hipotiroidisme. (Metabolisme tubuh menjadi lambat), Beberapa gejala hipotiroidisme adalah kelelahan berlebihan, konstipasi (susah buang air besar), dan peningkatan berat badan.
  • Badai tiroid. Ini adalah kondisi munculnya gejala yang parah dan tiba-tiba akibat sistem metabolisme yang berjalan terlalu cepat. Ini bisa terjadi ketika hipertiroid tidak ditangani atau tidak terdiagnosis. Selain itu, badai tiroid bisa terjadi karena beberapa hal, misalnya:
    • infeksi,
    • kehamilan,
    • tidak mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, dan
    • kerusakan kelenjar tiroid akibat cedera pada leher.
  • Badai Tiroid adalah kondisi darurat, maka jika Anda mencurigai ada orang di sekitar Anda yang mengalaminya, segera bawa ke rumah sakit terdekat. Beberapa gejalanya adalah:
    • nyeri dada,
    • diare,
    • demam,
    • menggigil,
    • berhalusinasi
    • dan sakit kuning.
  • Gangguan jantung. Komplikasi yang serius dari hipertiroid berkaitan dengan gangguan jantung, seperti detak jantung cepat, kelainan ritme jantung, dan gagal jantung kongestif (kegagalan jantung dalam memompa darah secukupnya ke seluruh tubuh)
  • Osteoporosis atau tulang rapuh. Kekuatan tulang bergantung kepada jumlah kalsium dan mineral lain di dalamnya. Tubuh akan kesulitan memasukkan kalsium ke dalam tulang ketika terganggu dengan banyaknya hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.

Apa saja Penyebab Hipertiroidisme??

♥ Banyaknya hormon tiroid, seperti T3(triiodotironin), dan T4 (Tiroksin) yang diproduksi kelenjar tiroid dalam tubuh bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti: penyakit Graves, obat amiodaron, suplemen iodine, nodul tiroid, kanker tiroid, atau tiroiditis.

Berikut ini adalah penjelasan dari masing-masing kondisi yang mungkin menyebabkan hipertiroid.

  • Penyakit Graves

Hipertiroidisme kebanyakan disebabkan oleh penyakit Graves. Kondisi yang terjadi akibat kelainan autoimun pada tubuh. Penyakit Graves termasuk kondisi turunan yang bisa muncul pada usia berapa pun, terutama pada wanita usia 20-40 tahun.

Penyakit ini menyerang kelenjar tiroid yang akhirnya memicu meningkatnya produksi hormon tiroksin. Belum diketahui kondisi apa yang menyebabkan kelainan autoimun ini, tapi faktor lingkungan dan keturunan dianggap berperan pada kemunculan kelainan ini.

Selain hipertiroidisme, penyakit Graves juga memengaruhi mata, yaitu mengakibatkan pandangan kabur dan ketidaknyamanan. Kondisi tersebut ditandai dengan bola mata yang terlihat menonjol keluar.

Hipertiroid

  • Tiroiditis

Tiroiditis adalah peradangan pada kelenjar tiroid. Kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi bakteri maupun virus. Tiroiditis akan merusak kelenjar tiroid hingga menyebabkan kebocoran hormon tiroid, pada akhirnya menyebabkan hipertiroid.

  • Nodul Tiroid

Nodul adalah gumpalan yang terbentuk di dalam kelenjar tiroid dan belum diketahui penyebabnya. Meski bersifat jinak dan tidak menyebabkan kanker, nodul bisa mengandung jaringan tiroid yang abnormal. Gumpalan ini berdampak kepada peningkatan produksi hormon tiroid dalam tubuh dan berakibat pada hipertiroid.

  • Efek samping obat

Untuk memproduksi hormon tiroid, kelenjar tiroid membutuhkan iodine yang terkandung di dalam makanan. Hormon tiroid akan menjadi terlalu banyak dan  akhirnya menyebabkan hipertiroid jika Anda mengonsumsi suplemen iodine.

Amiodaron adalah obat yang digunakan untuk mengatasi detak jantung yang tidak beraturan dan termasuk dalam kelompok obat antiaritmik. Obat ini bisa menyebabkan hipertiroidisme karena mengandung iodine, yaitu unsur yang bisa meningkatkan produksi hormon tiroid.

  • Kanker tiroid

Kanker tiroid tergolong sangat langka. Jika kanker terletak di jaringan tiroid dan sel-sel kanker mulai menghasilkan banyak hormon tiroid, maka Anda bisa mengalami hipertiroid.

♥ Selain faktor jenis kelamin dan keturunan, terdapat faktor lain yang bisa meningkatkan risiko Anda mengalami hipertiroid. Orang yang memiliki penyakit autoimun, seperti diabetes tipe 1 dan penyakit Addison, lebih berisiko terkena kondisi ini juga. Perokok cenderung menderita penyakit Graves dan secara tidak langsung meningkatkan risiko menderita hipertiroid.

Tahukah Anda ??

Wanita lebih berisiko terkena Hipertiroid dibanding pria. Perbandingan wanita : pria yang terkena hipertiroid, adalah 5:1

Tes yang Dilakukan Untuk Mendiagnosis Hipertiroid

Untuk memastikan diagnosis terhadap hipertiroid, Langkah-langkah yang dilakukan dokter adalah:

  • 1. dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda, dari gejala-gejala, dan komplikasi yang mungkin terjadi (ANAMNESA) 
  • 2. Melakukan PEMERIKSAAN FISIK. Meliputi Inspeksi (Melihat), Palpasi (Meraba) adakah pembesaran dari kelenjar tiroid di leher

hipertiroid  

  • 3. Melakukan PEMERIKSAAN PENUNJANG (seperti test fungsi tiroid, test pencitraan tiroid isotop, USG Tiroid)
  • 4. Barulah DIAGNOSIS Hipertiroid ditegakkan 
  • 5. Setelah diagnosis ditegakkan, selanjutnya dilakukan TREATMENT atau pengobatan.

JADI HARUS STEP BY STEP.

Berikut ini beberapa tes yang mungkin dilakukan:

  • Tes fungsi tiroid

Tes fungsi tiroid adalah tes darah yang dilakukan untuk mengetahui tingkat thyroid-stimulating hormone/TSH (hormon yang merangsang kelenjar tiroid) dan tingkat hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid, yaitu hormon tiroksin (T4) dan hormon triiodotironin (T3).

Fungsi hormon perangsang kelenjar tiroid atau TSH adalah mengendalikan produksi tiroksin dan triiodotironin. Pada penderita hipertiroid, kadar TSH-nya rendah sedangkan kadar tiroksin dan triiodotironin-nya tinggi.  TSH ↓↓ , T3 ↑ ↑ , T4 ↑ ↑ . Jika hipotiroid, yang terdeteksi di lab, TSH ↑ ↑, namun T3 ↓↓, dan T4 ↓↓ . Karena itu, Test fungsi Tiroid ini, penting untuk dilakukan.

Terkadang, hasil tes dari penderita Hipertiroid, memperlihatkan kadar TSH rendah, tapi kadar hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid tetap normal. Kondisi ini dikenal dengan istilah hipertiroidisme subklinis.

Hipertiroidisme subklinis biasanya pulih dengan sendirinya dalam waktu sekitar dua bulan, jadi Anda tidak memerlukan pengobatan untuk kondisi ini. Meski begitu, Anda tetap memerlukan tes fungsi tiroid secara rutin untuk  untuk mengawasi kesehatan Anda.

Tambahan informasi dari saya : Sebenarnya untuk Test Fungsi Tiroid, boleh diperiksa kadar TSH dan T4 saja. Mengingat T4 adalah hormon yang lebih banyak dihasilkan kelenjar tiroid dibanding T3.

Namun jika TSH rendah, tetapi T4 tidak tinggi /normal. Maka perlu mengkonfirmasi apakah dia hipertiroid atau hanya Hipertiroid subklinis, dengan tambahan pemeriksaan T3.

  • Tes pencitraan tiroid isotop

Tes lanjutan akan dilakukan setelah Anda dipastikan menderita hipertiroid. Tes ini bertujuan menentukan kondisi apa yang mendasari kelenjar tiroid menjadi overaktif/ hiperaktif.

Dalam prosedur tes ini Anda akan menelan unsur radioaktif atau isotop dalam bentuk kapsul atau cairan. Untuk mengetahui berapa banyak isotop yang diserap kelenjar tiroid, tes pencitraan akan dilakukan.

Jika isotop yang diserap oleh kelenjar tiroid cukup rendah, maka kondisi yang mungkin mendasari hipertiroid adalah tiroiditis (peradangan kelenjar tiroid), asupan iodine yang tinggi, atau karena kanker tiroid.

Tapi jika kelenjar tiroid menyerap banyak isotop, kemungkinan besar penyebab hipertiroid Anda adalah nodul tiroid atau penyakit Graves.

Tambahan informasi dari saya: Sebenarnya pemeriksaan dengan radioaktif/ radioiodine ini, tidak begitu dianjurkan. Karena Iodine yang biasa dipakai, yaitu I-131 dapat membuat kerusakan atau peradangan pada jaringan tiroid. Sedangkan Iodine yang lebih aman, yaitu I-123, harganya jauh lebih mahal, dan belum diproduksi/ tidak tersedia.

Penggunaan Iodine radioaktif ini, kebanyakan untuk terapi pasien Hipertiroid yang tidak mempan/relaps/kambuh kembali hipertiroidnya setelah diberikan treatment dan pengobatan jangka panjang. Nama prosedurnya adalah ablasi. Bisa juga untuk menuntaskan sisa-sisa jaringan tiroid yang masih ada setelah dilakukan operasi pengangkatan kelenjar tiroid (tiroidektomi)

  • USG Tiroid

Ultrasonografi (USG) tiroid merupakan salah satu pencitraan diagnostik (imaging diagnostic) yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk mencitrakan atau memeriksa alat-alat tubuh (dalam hal ini, tiroid), dimana kita dapat mempelajari bentuk, ukuran anatomis, gerakan, serta hubungan dengan jaringan sekitarnya.

hipertiroid

Prosedur USG Tiroid ini sangat penting dilakukan untuk menentukan strategi Pengobatan. Karena jika isi kelenjar tiroid yang membesar itu ternyata hanya kista berisi cairan, maka cukup dilakukan aspirasi needle atau ditarik cairannya.

Pengobatan pada Hipertiroid

Pengobatan yang diberikan terhadap penderita hipertiroid bergantung pada:

  1. Faktor usia
  2. Gejala yang dialami, dan
  3. kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid dalam darah.

Di bawah ini adalah jenis pengobatan yang biasanya digunakan untuk mengatasi hipertiroid, yaitu:

  • Thionamide

Thionamide adalah kelompok obat-obatan yang digunakan untuk menekan produksi hormon tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Contoh obat-obatan thionamide adalah propylthiouracil (PTU), carbimazole, dan methimazole / Thiamazole dengan merk dagang Thyrozol tablet. Obat ini perlu dikonsumsi sekitar 1-2 bulan agar bisa dilihat perubahan pada kondisi hipertiroid.

Dosis obat ini akan diturunkan secara perlahan setelah produksi hormon oleh kelenjar tiroid bisa dikendalikan/ mencapai eutiroid.

Efek samping yang jarang terjadi akibat obat ini adalah sakit persendian dan ruam kulit (iritasi, bengkak, kemerahan, gatal). Risiko mengalami hipotiroid (kelenjar tiroid yang kurang aktif menghasilkan hormon tiroid) akibat pengobatan ini lebih kecil dibandingkan radioterapi.

Tambahan Informasi dari saya : Untuk kasus pasien yang terdiagnosis hipertiroid, biasanya pasien mendapatkan terapi obat-obatan jangka panjang. Bisa 1,5 tahun – 2 tahun. Pada periode itu, pasien harus dikontrol kadar tiroidnya untuk menentukan dosis pemeliharaan.

Pasien dikatakan sembuh dari hipertiroid, jika kadar tiroid stabil, dan tidak relaps/ kambuh kembali. Karena 30 persen pasien hipertiroid yang diberikan terapi obat-obatan anti tiroid jangka panjang, dapat relaps/ kambuh kembali.

Apabila dokter mempertimbangkan bahwa terapi obat-obatan kurang efektif mengatasi keadaan hipertiroid. Maka mereka bisa saja menganjurkan prosedur yang lebih masif, seperti ablasi/radioterapi/radioiodine, dan Tiroidektomi (pengangkatan jaringan kelenjar tiroid sebagian atau seluruhnya)

  • Radioterapi

Radioterapi/ Radioiodine adalah sejenis prosedur radioterapi untuk mengobati hipertiroid. Hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid akan berkurang ketika iodine radioaktif  (dalam tingkat rendah dan tidak berbahaya) menyusutkan kelenjar tiroid. Pengobatan radioiodine dapat konsumsi dalam bentuk obat cair atau kapsul.

Terdapat beberapa kelompok orang yang tidak dianjurkan untuk melakukan pengobatan radioiodine, antara lain:

  • Wanita yang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Orang yang mengalami gangguan mata, seperti pandangan kabur dan bola mata yang menonjol.

Setelah menjalani pengobatan radioiodine, seorang wanita tidak boleh hamil setidaknya enam bulan setelah pengobatan berakhir. Dan untuk pria, tidak boleh menghamili wanita setidaknya empat bulan setelah pengobatan radioiodine.

Dosis pengobatan dengan radioiodine hanya diberikan satu kali. Jika diperlukan, pengobatan lanjutan diberikan setelah dosis pertama dengan jeda sekitar 6 bulan hingga 1 tahun. Untuk mempercepat pemulihan gejala, thionamide akan diberikan beberapa minggu sebelum Anda melakukan pengobatan radioiodine.

Keuntungan dari prosedur pengobatan ini adalah memiliki tingkat keberhasilan yang sangat bagus. Sedangkan kekurangan prosedur ini adanya risiko efek samping hipotiroid (kelenjar tiroid yang kurang aktif) lebih tinggi dibanding obat-obatan thionamide/ obat-obatan antitiroid.

Tambahan informasi dari saya : Bisa saja dokter sengaja membuat pasien itu hipotiroid dengan prosedur ablasi menggunakan radioterapi/ radioiodine, dan juga melakukan operasi pengangkatan jaringan/kelenjar tiroid (tiroidektomi).

Karena Hipertiroid keadaannya lebih seperti kuda liar yang sulit dikendalikan.

Namun dengan membuat pasien hipotiroid, maka keadaan klinis pasien lebih mudah dikendalikan dengan pemberian obat-obatan synthetic thyroid hormone levothyroxine (contoh: Levothroid, Synthroid) merk dagang Euthyrox tablet, untuk menormalkan kembali kadar hormon. Obat ini akan dikonsumsi seumur hidup oleh pasien yang menjadi hipotiroid.

Tentunya sebelum melaksanakan strategi pengobatan, dokter yang menangani akan berdiskusi, menjelaskan, dan memberi pilihan kepada pasien.

  • Beta-blocker

Beta-blocker atau penghambat beta adalah obat yang digunakan untuk mengatasi gejala yang muncul akibat hipertiroidisme, seperti hiperaktif, detak jantung cepat, dan tremor.

Obat ini tidak boleh dikonsumsi oleh penderita asma. Kenapa?? karena Beta blocker dapat mencetuskan penyempitan saluran nafas (Bronkospasme) yang akan memperparah asma.

Beta-blocker diberikan setelah produksi hormon kelenjar tiroid bisa dikendalikan oleh thionamide. Efek samping yang paling umum akibat obat ini adalah mual, kaki dan tangan menggigil, insomnia, dan selalu merasa lelah.

Obat golongan Beta-blocker, misalnya Propanolol, Bisoprolol.

  • Operasi tiroid

Operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau tiroidektomi disebut parsial jika hanya sebagian yang diangkat dan total jika seluruhnya jaringan kelenjar diangkat.

Berikut ini adalah beberapa alasan perlu dilakukannya prosedur operasi pengangkatan kelenjar tiroid, yaitu:

  • Jika hipertiroid muncul kembali setelah sebelumnya menjalani penanganan dengan thionamide.
  • Terjadi pembengkakan yang cukup parah pada kelenjar tiroid.
  • Tidak bisa dilakukan pengobatan radioiodine karena sedang hamil atau menyusui,
  • Serta tidak dapat melewati prosedur pengobatan dengan thionamide karena efek samping yang timbul, seperti sakit persendian atau iritasi kulit.
  • Pasien menderita gejala mata yang parah akibat penyakit Graves.

Untuk menghilangkan kemungkinan kambuh atau muncul kembali/ relaps, disarankan untuk mengangkat seluruh kelenjar tiroid yang ada.

Mereka yang menjalani operasi tiroidektomi total diharuskan mengkonsumsi obat-obatan synthetic thyroid hormone levothyroxine (contoh: Levothroid, Synthroid) merk dagang Euthyrox tablet, seumur hidup untuk mengatasi hilangnya fungsi kelenjar tiroid di dalam tubuh.


Selain terapi farmakologi dengan prosedur medis, ada juga terapi non farmakologi untuk pasien hipertiroid.

Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan:

  • 2. Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kg berat badan ) per hari untuk mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur.
  • 3. Olah raga secara teratur ( Namun lebih baik dilakukan setelah kadar hormon tiroidnya normal/ eutiroid), Jika sedang tinggi, baiknya berolahraga dengan intensitas ringan saja, seperti berjalan kaki. Lakukanlah 30 menit sehari konstan.
  • 4. Menghindari rokok, alkohol dan kafein (misal: kopi) yang dapat meningkatkan kadar metabolisme.

Terima kasih sudah membaca artikel terlengkap mengenai Hipertiroid dan Gondok ini sampai selesai. Artikel ini dibuat khusus untuk komunitas pasien tiroid yang ada di Facebook Group. Hopefully, Informasi dari kami bisa memberikan petunjuk untuk sehat.

Artikel-artikel lainnya akan terus kami update untuk pembaca sekalian.

Silakan baca juga artikel terkait:

hipertiroidTetap Semangat!!

boleh ^_^ kalau artikelnya bagus , langsung klik untuk di share yaak. hopefully bermanfaatShare on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin