Departemen Kesehatan melaporkan jumlah kasus difteri meningkat pesat belakangan ini sampai dianggap kejadian luar biasa (KLB). Penyakit difteri ini sudah menyebar dengan cepat di 100 kabupaten dan 20 provinsi di Indonesia. Penyakit difteri ini sangat menular dan mematikan. Bisa jadi kita yang jadi korban berikutnya. Sudah puluhan pasien meninggal akibat penyakit ini.

Mengenal penyakit difteri

Difteri adalah infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir, hidung, dan tenggorokan. Kadang mempengaruhi kulit, karena pasien yang terkena penyakit difteri ini, biasanya ada luka di kulitnya.

Corynebacterium diphtheriae. Masa inkubasi atau Saat di mana kuman masuk sampai menimbulkan gejala biasanya 2 -5 hari. Penyakit ini sangat menular dan mematikan.

Penyakit ini menular melalui percikan ludah, batuk, bersin, atau kontaminasi sentuhan atau kontak langsung dari luka, dan bisul dari penderita yang terinfeksi difteri ini.

Makanan, handuk, dan barang lain bisa menjadi perantara atau sarana kontaminasi dari orang penderita difteri .

Apa Saja Gejala Awal dari difteri?

  • Demam Tinggi lebih dari 38 º C
  • Nafsu makan menurun
  • Badan terasa lesu/ lemas
  • Menginfeksi tenggorokan Menyebabkan peradangan  Nyeri saat menelan dan Sakit Tenggorokan
  • Suara serak
  • Sulit bernafas atau nafas menjadi cepat
  • Leher bengkak/ disebut bull neck akibat kelenjar limfe/ kelenjar getah bening yang membengkak.
  • Lendir di hidung berwarna kuning kehijauan, kadang disertai darah
  • Terdapat selaput putih keabu-abuan (Pseudomembran) di tenggorokan, amandel, dan hidung
    • selaput putih keabu-abuan (Pseudomembran) terbentuk dari sel-sel yang mati akibat toksin atau racun yang diproduksi bakteri difteri ⇒ Menghambat pernafasan
  • Kompikasi dari toksin atau racun dari infeksi difteri ini dapat menyebabkan peradangan paru-paru ⇒ gagal nafas, kerusakan saraf, kerusakan ginjal⇒ gagal ginjal, atau kerusakan jantung ⇒ gagal jantung

 


Bagaimana pencegahan terbaik dari penyakit difteri ini??

  • Seseorang yang diduga terinfeksi difteri ini harus dirawat dan diisolasi supaya tidak menular ke orang lain.
  • Hindari kontak langsung dari penderita difteri. PERHATIKAN GEJALA-GEJALANYA. Jika kita curiga teman atau keluarga kita terinfeksi difteri, BAWA SEGERA ke dokter atau Rumah Sakit.
  • Pencegahan terbaik tentu saja dengan IMUNISASI ATAU VAKSINASI.

Diduga Mewabahnya atau terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dari penyakit ini karena minimnya partisipasi IMUNISASI ATAU VAKSINASI.

Bagaimana cara imunisasi untuk mencegah difteri??

  • Usia Kurang dari/ < 1 tahun : 3 x imunisasi difteri (DPT). DPT kepanjangan dari Difteri, Pertusis atau batuk renjan, dan tetanus. Biasanya pada usia bayi 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan
  • Usia 1-5 tahun : 2 kali imunisasi ulang. Biasanya pada usia 1,5 tahun dan 5 tahun
  • Usia sekolah : Imunisasi ulang 1 x melalui  program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Imunisasi ini menjadi program pemerintah dan dilakukan secara massal atau serentak kepada anak-anak sekolah. Disebut vaksin lanjutan. Biasanya dilakukan kepada anak usia sekitar 10 tahun.
  • Ternyata saat remaja atau dewasa pun kita dianjurkan untuk dilakukan imunisasi ulang difteri setiap 10 tahun

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Biasanya dari gejala-gejalanya saja, seseorang dapat kita curigai terinfeksi penyakit difteri. Namun untuk memastikan seseorang terdiagnosis difteri, dokter dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau luka/ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Jika terdiagnosis difteri, orang tersebut akan menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Karena penyakit ini sangat menular dan mematikan.

Karena penyebabnya adalah infeksi bakteri, maka pengobatan utama adalah dengan pemberian antibiotik. Sekali lagi, antibiotik hanya boleh diresepkan oleh dokter. Orang awam tidak boleh memakainya atau membelinya sembarangan tanpa resep dokter. Mengingat bahaya resistensi yang cukup tinggi atau keampuhan antibiotik yang menurun akibat salah konsumsi atau dosis yang tidak tepat.

Antibiotik diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.

Biasanya setelah konsumsi antibiotik selama 2 hari, penderita dapat keluar dari ruang isolasi. Antibiotik harus diminum sampai habis. Biasanya dokter memberikan antibiotik minimal 10 hari untuk mengobati difteri ini, tergantung dari gejala, dan keparahan penyakit. Bisa 2 minggu sampai 3 minggu.

Penderita dapat menjalani pemeriksaan laboratorium kembali untuk melihat masih ada atau tidaknya bakteri difteri dalam aliran darah. Jika masih ada, pengobatan akan dilanjutkan.

Selain antibiotik, pasien juga akan diberikan antitoksin atau anti racun.

Pemberian antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh.

Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan selaput atau membran.

Sedangkan penderita difteri dengan gejala ulkus atau luka pada kulit, dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Apabila pasien sudah sembuh, Terkadang vaksin difteri juga dapat diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini agar tidak mengalami infeksi difteri kembali.

Terimakasih sudah membaca artikel singkat dan padat mengenai penyakit difteri ini. Semoga artikelnya dapat dibagikan atau di share kepada masyarakat umum.

JANGAN LUPA VAKSIN SANGAT PENTING  dan SAYA SANGAT ANJURKAN UNTUK DILAKUKAN SEBAGAI PENCEGAHAN UTAMA TERHADAP PENYAKIT DIFTERI INI.

JANGAN TAKUT UNTUK VAKSINASI ATAU IMUNISASI, KARENA MANFAATNYA SANGAT BESAR UNTUK MENCEGAH PENYAKIT MEMATIKAN SEPERTI DIFTERI.

Baca juga artikel-artikel terkait:

boleh ^_^ kalau artikelnya bagus , langsung klik untuk di share yaak. hopefully bermanfaatShare on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin