Adanya berita mengenai kasus pembullyan mahasiswa yang menderita autis di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia, mendorong penulis untuk menjelaskan Apa Itu Autisme?

Istilah autisme berasal dari kata “Autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham tertarik pada dunianya sendiri.

Pada penderita Autisme terjadi gangguan perkembangan fungsi otak/ sistem saraf yang bersifat pervasive (Pervasive Development Disorder/PDD) yang meliputi kelainan mental, emosi, fisik, perilaku, intelektual, kemauan, sosial, dan bahasa.

Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial dan perilaku. Sering penderita autis menutup diri dari pergaulan, sehingga tidak banyak teman.

Penderita Autisme sudah memperlihatkan gejala autis semenjak anak-anak. Biasanya orang tua sudah mengetahui anaknya autis sejak berumur 3 tahun atau balita. Menurut survey, anak laki-laki penderita autis jumlahnya 4 kali lipat dibanding perempuan.

Salah satu kebiasaan penderita autis, adalah menumpuk benda-benda atau menyusun benda-benda membentuk barisan.

Autisme  tidak secara tiba-tiba terjadi saat seseorang sudah beranjak remaja/ dewasa. Melainkan sedari kecil sudah memperlihatkan Tanda-tanda/ gejala-gejala autis.

Penderita Autisme menghadapi masalah dalam 3 aspek utama:

  • 1. Kemahiran berkomunikasi
  • 2. Hubungan Sosial
  • 3. Aktifitas imajinasi. Karena itu penderita autisme disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri.

Orang tua perlu curiga, anaknya menderita autisme jika memperlihatkan gejala/ tanda autisme seperti berikut:

Tanda awal autisme:

  • Lambat menguasai kemampuan bertutur kata
  • Kurang eye contact
  • Echolalia : Percakapan atau menuturkan kata secara berulang-ulang
  • Tidak berpaling bila dipanggil
  • pergerakan anggota tubuh yang berulang-ulang/ perilaku yang diulang-ulang
  • Tidak suka dipeluk atau digendong
  • Tidak coba meniru ekspresi wajah
  • Tidak mampu membuat pertanyaan atau permintaan yang sederhana
  • Mempunyai kebiasaan meraung, menjerit, dan mengamuk
  • Sering juga memukul-mukul atau menyakiti diri sendiri. Perilaku tidak terkendali.
  • Suka menumpuk benda-benda atau menyusun benda-benda membentuk barisan.
  • dan lain-lain
Berdasarkan tanda-tanda di atas, maka autisme adalah gangguan perkembangan yang sifatnya luas dan kompleks, mencakup:
  • Aspek interaksi sosial,
  • Komunikasi/ bahasa,
  • Kognisi/ cara berpikir, dan
  • Motorik/ perilaku.

Intinya, penderita/ penyandang autis memiliki ciri-ciri:

  • Emosi yang labil,
  • Penyandang autis memiliki keterbatasan minat
  • Sering melakukan gerakan berulang disertai respon sensorik yang menyimpang.
  • sulit bersosialisasi/ berinteraksi sosial, berkomunikasi atau mengenali perasaan serta emosi orang lain

Ciri-ciri ini sudah dapat dikenali pada tiga tahun pertama kehidupannya/ balita. Karena penyandang autis memang terjadi sejak masih anak-anak. Hampir tidak pernah, Seseorang terkena autis saat dia remaja/dewasa.

Karena autis diakibatkan oleh gangguan perkembangan sistem saraf/ otak, maka sebagian penyandang autis memiliki kemungkinan cukup besar menderita epilepsi/ kejang. Tetapi tidak semua penyandang autis, pasti memiliki riwayat epilepsi/ kejang.

Autis yang diderita saat anak-anak dapat berlanjut permanen sampai si anak beranjak dewasa.

Menurut penelitian di virginia university amerika serikat, diperkirakan 75-80% penyandang autis mempunyai kemampuan berpikir di bawah rata-rata/reterdasi mental, 20% sisanya mempunyai tingkat kecerdasan normal atau diatas normal untuk bidang-bidang tertentu.

Sebagian kecil mempunyai daya ingat yang sangat kuat terutama yang berkaitan dengan obyek visual (gambar). Sebagian kecil memliki kemampuan lebih pada bidang berkaitan dengan angka.

Tingkat keparahan dan gejala-gejala dari autis sendiri, berbeda antar individu. Para tokoh dunia seperti Thomas Alfa Edison, Michaelangelo, Mozart, Albert Einstein, Isaac Newton, diketahui menderita autisme.

Biasanya mereka akan terlalu fokus dalam pekerjaannya, Lupa makan, lupa mandi, banyak merenung. Beberapa di antaranya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, misalnya cuek/ tidak menghiraukan lawan bicaranya. Namun mereka dapat menunjukkan karya besar, walaupun menderita autis.


APA PENYEBAB AUTISME??

Penyebab autisme memang tidak diketahui secara pasti, namun ada beberapa hal yang dapat menjadi faktor risiko terjadinya autisme, seperti berikut:

  • 1. Faktor genetik
    • orang tua yang memiliki anggota keluarga penderita autis, memiliki resiko lebih tinggi untuk melahirkan anak yang menderita autis
  • 2. Saat hamil sampai melahirkan, sang ibu menderita anemia/ kurang darah, gangguan pernafasan yang menyebabkan kurangnya oksigen ke janin (terutama bagian otak), atau ibu mengalami infeksi yang menyebabkan bayi juga ikut terinfeksi.
  • 3. Selama hamil sang ibu mengkonsumsi atau menghirup zat yang sangat polutif yang meracuni janin. Misalnya: Pestisida, logam berat (biasanya dari makanan atau minuman yang tercemar limbah), obat-obatan seperti asam valproat (obat epilepsi),  thalidomide (dulu digunakan untuk terapi mual pada ibu hamil, sekarang sudah dilarang karena menyebabkan kecacatan janin)
  • 4. Radiasi pada janin. Karena itu, ibu hamil sebisa mungkin tidak dilakukan pemeriksaan foto rontgen.

Apakah autime dapat disembuhkan?

Ya, Autisme dapat disembuhkan. Caranya? Melalui terapi dini secara intensif dan terpadu, serta diet khusus bagi penyandangnya.

Saya ingin menyimpulkan pendapat dari dr Rudy Sutadi, SpA, MARS, SPD.I mengenai autisme.

Menurut beliau, autisme bisa disembuhkan dengan metode smart ABA (applied behavior analysis) dan smart BIT (biomedical intervention therapy).

Apa itu ABA?

ABA (applied behavior analysis) merupakan analisis perilaku terapan, di mana menggunakan prosedur perubahan perilaku/ aktifitas untuk mengajarkan penyandang autisme agar menguasai berbagai kemampuan dalam hal memecahkan masalah sehari-hari.

Caranya menyederhanakan aktivitas kompleks menjadi bagian-bagian kecil sesuai kemampuan yang bersangkutan.

ABA akan berhasil jika ada intervesi dini, yakni dimulai sebelum anak berusia 3 tahun. Selain itu harus dilakukan secara intensif, yaitu minimal 40 jam per minggu.

Menurut dr Rudy, pada 1960-an behavior modification sebagai bagian dari sejarah ABA, telah digunakan untuk menerapi perilaku patologis/ tidak normal. Misalnya:

  • Nyeri kronis/ berkelanjutan
  • Stres,
  • Anoreksia
    • Anoreksia adalah masalah kesehatan jiwa di mana pengidapnya terobsesi untuk memiliki tubuh kurus dan sangat takut jika mereka terlihat gemuk.
    • Saking takutnya, mereka bahkan selalu menganggap tubuhnya masih kurang kurus atau masih gemuk meski kenyataannya tidak seperti itu.
  • Kecanduan narkoba,
  • Depresi,
  • Ansietas/ cemas,
  • bahkan Masalah hubungan suami istri.

Ternyata metode ABA (applied behavior analysis) ini, dikembangkan untuk membantu penyembuhan autisme.

Metode yang ke 2, yaitu: BIT (biomedical intervention therapy), merupakan penerapan ilmu biomedis pada kedokteran klinik untuk memperbaiki berbagai masalah kesehatan, termasuk autisme.

BIT terdiri dari diet, medikamentosa atau obat-obatan dan suplemen.

Jadi pada anak dengan autisme, diet atau pola makan harus dijaga.

Mereka dianjurkan diet casein free, gluten free (CSGF) untuk meminimalkan terbentuknya peptida opiat. Sebab makanan bergluten dan yang bergula tidak dicerna sempurna sehingga terbentuk peptida opiat dari usus yang masuk ke darah, kemudian mencapai otak.

Makanan penyandang yang harus dihindari adalah makanan yang mengandung gluten atau kasein karena diperkirakan sebagai salah satu pemicu munculnya sikap agresif di otak.

Makanan/ minuman yang sebaiknya dibatasi/ dihindari karena mengandung gluten, misalnya:

  • Berbagai jenis makanan yang berasal dari gandum
  • Sereal
    • Banyak sereal terbuat dari gandum. Sementara hampir semua jenis gandum mengandung gluten, termasuk malt (biji gandum) dan oat.
    • Sebagai pengganti, cobalah sereal yang terbuat dari beras atau jagung.
  • Tepung gandum, tepung terigu mengandung gluten.
    • Jadi pilihlah tepung yang aman untuk penyandang autis seperti tepung maizena/tepung jagung, tepung beras, tepung tapioka/ tepung kanji.
  • Roti
    • Kebanyakan roti terbuat dari tepung gandum dan jelai. Termasuk muffin, bagel, croissant, burger, bahkan pizza.
    • Penggantinya? Pilih roti yang terbuat dari kentang dan tepung beras. Jangan lupa perhatikan label kemasan. Pastikan roti yang Anda beli mencantumkan label bebas gluten.
  • Mie
    • Rata-rata mie yang ada di pasaran terbuat dari tepung terigu.
  • Pasta
    • Apa pun jenis olahannya, semua makanan yang terbuat dari pasta pasti terbuat dari gandum. Makanan Italia seperti makaroni, spageti, dan fettucine adalah jenis makanan yang berbahan dasar pasta. Jadi makanan ini, sebaiknya dihindari pada penyandang autis.
  • Kue dan biskuit
    • Kue dan biskuit yang terbuat dari tepung terigu dan gandum. Baik itu kue tradisional seperti putu mayang dan getuk lindri, maupun kue khas negara lain seperti brownies dan nastar.

Makanan/ minuman yang sebaiknya dibatasi/ dihindari karena mengandung kasein, misalnya:

  • Susu
    • Susu merupakan sumber utama kasein. Protein yang terkandung dalam susu sekitar 80 persennya adalah kasein, sedangkan 20 persen sisanya protein whey.
  • Yogurt dan Krim
    • Yogurt dan krim umumnya terbuat dari susu sehingga keduanya mengandung kasein.
  • Keju
    •  Kandungan kasein dalam keju bahkan lebih tinggi dibanding susu.

Banyak peneliti menyatakan makanan mengandung gluten dan kasein memicu sikap agresif, dan tidak baik untuk anak autis.

Tak hanya diet gluten dan kasein, ada makanan lain sebaiknya dibatasi/ dihindari bagi penyandang autis.

Makanan/ minuman lain yang sebaiknya dibatasi/ dihindari bagi penyandang autis, misalnya:

  • Ragi,
  • Makanan atau minuman berfermentasi, misalnya:
    • Tempe, roti, tape, acar timun, asinan, oncom, cuka, kecap, terasi, keju, yogurt, dan bir.
  • Coklat,
  • Gula,
  • dan Junkfood

Lalu apa saja makanan/minuman yang aman untuk penyandang autis ??

Makanan untuk penyandang autis adalah yang tidak mengandung gluten, misalnya:
  • Kentang,
  • Beras atau nasi
  • Singkong,
  • Ubi jalar,
  • Kacang-kacangan,
  • Kedelai,
  • Ikan,
  • Daging,
  • Tepung maizena/tepung jagung, tepung beras, tepung tapioka/ tepung kanji.
  • Sayur dan buah-buahan.

Tentunya untuk terapi perilaku/ metode smart ABA (applied behavior analysis) dan pola diet/ smart BIT (biomedical intervention therapy), Anda sebaiknya berkonsultasi dahulu dengan ahlinya.

Dokter spesialis yang cocok untuk mendeteksi Autisme adalah Dokter Spesialis Anak (Sp.A) yang dibantu oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (Sp.KJ)/ Psikiater untuk mengetahui antara lain tingkat kecerdasan Balita.

Ingat, AUTISME BUKAN PENYAKIT DAN TIDAK MENULAR. JADI JANGAN DIJAUHI DAN DIJADIKAN BAHAN OLOK-OLOK/ BULLY.

Autisme adalah gangguan tumbuh kembang yang menyebabkan anak tidak dapat fokus terhadap sesuatu, sehingga membutuhkan penanganan khusus, dan perhatian sosial dari lingkungannya. Jadi bantulah mereka untuk mendapat terapi yang tepat.

Terimakasih sudah membaca artikel tentang autisme ini sampai selesai. Nantikan artikel kami selanjutnya.

Artikel terkait:

♥ Epilepsi : Tidak hanya sebatas KEJANG. 1 dari 100 orang ternyata mengidap epilepsi! Apakah Anda orangnya??

boleh ^_^ kalau artikelnya bagus , langsung klik untuk di share yaak. hopefully bermanfaatShare on Facebook
Facebook
Share on Google+
Google+
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin